Menurut Badiru (1995), AHP merupakan suatu pendekatan praktis untuk memecahkan masalah keputusan kompleks yang meliputi perbandinagn alternatif.AHP juga memungkinkan pengambilankeputusan menyajikan hubungan hierarki antara faktor, atribut, karakteristik atau alternative dalam lingkungan pengambilan keputusan. Dengan cirri – ciri khusus, hierarki yang dimilikinya, masalah kompleks yang tidak terstruktur dipecahkan dalam kelompok -kelompoknya.
Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahamidiantaranya adalah : decomposition,comparative judgment, synthesis of priority, dan logicalconsistency.
B. Prinsip AHP
1. *Decomposition (Penyusunan
Hirarki).
Setelah persoalan didefenisikan, maka perlu
dilakukan decomposition yaitu memecah persoalan yang utuh
menjadi unsur – unsurnya. Jika ingin mendapatkan
hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur – unsurnya
sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehinggadidapatkan
beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini, maka
proses analisis ini dinamakan hierarki (hierarchy). Ada 2 (dua)
jenis hierarki, yaitu lengkap dan tak lengkap. Dalam hierarki lengkap,
semua elemen pada suatu tingkat
memiliki semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya. Jika tidakdemikian
dinamakan hierarki tak lengkap.
2 *Comparative
Judgement (Penilaian Perban- dingan Berpasangan.
Prinsip ini
berarti membuat penilaian tentang kepentingan relative 2 (dua) elemen pada
suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya.Penilaian ini
merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas
elemen – elemen. Hasil dari penilaian ini akan tampak lebih enak bila disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan
matriks pairwise comparison. Pertanyaan yang biasa diajukan
dalam penyusunan skala kepentingan adalah :
a. Elemen mana
yang lebih (penting/disuka/…)
b. Berapa kali
lebih (penting/disuka …) ?
Agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika membandingkan 2 (dua) elemen seseorang
yang akan memberikan jawaban perlu pengertian menyeluruh tentang elemen –
elemen yang dibandingkan dan relevansinya terhadap kriteria atau tujua
yang dipelajari.
3. Sintesa Prioritas
Sintesa
prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas
dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap
elemen dalam level yang dipengaruhi kriteria. Hasilnya berupa gabungan
atau dikenal dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk
memboboti prioritas lokal dari elemen di level terendah sesuai dengan
kriterianya.
Buchara (2000) mejelaskan bahwa secara umum, langkah – langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan AHP untuk memecahkan suatu masalah adalah sebagai berikut :
1. Mendefenisikan permasalahan dan menentukan tujuan. Bila AHP digunakan untuk memilih alternatif atau
menyusun prioritas alternatif, maka tahap ini dilakukan pengembangan alternatif.
2. Menyusun masalah ke dalam suatu struktur hierarki sehingga permasalahan yang kompleks dapat ditinjau
dari sisi yang detail dan terukur.
3. Menyusun prioritas untuk tiap elemen masalah pada setiap hierarki. Prioritas ini dihasilkan dari suatu
matriks perbandingan berpasangan antara seluruh elemen pada tingkat hierarki yang sama.
4. Melakukan pengujian konsistensi terhadap perbandingan antar elemen yang didapatkan pada tiap
tingkat hierarki.
2. Menghitung data dari bobot perbandingan berpasangan responden dengan metode
“pairwise comparison” AHP berdasar hasil kuisioner.
3. Menghitung rata-rata rasio konsistensi dari masing-masing responden.
4. Pengolahan dengan metode “pairwise comparison” AHP.
5. Setelah dilakukan pengolahan tersebut, maka dapat disimpulkan adanya konsitensi dengan tidak,
bila data tidak konsisten maka diulangi lagi dengan pengambilan data seperti semula, namun
bila sebaliknya maka digolongkan data terbobot yang selanjutnya dapat dicari nilai beta (b)
D. Kelebihan dan Kekurangan dalam Metode AHP
1. Kelebihan
-Struktur yang berhierarki sebagai konskwensi dari kriteria yang dipilih sampai pada sub-sub
kriteria yang paling dalam.
- Memperhitungkan validitas sampai batas toleransi inkonsentrasi sebagai kriteria dan alternatif yang
dipilih oleh para pengambil keputusan.
-Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
2. Kelemahan
- Ketergantungan model AHP pada input utamanya.
Input utama
ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan
subyektifitas sang
ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli
tersebut memberikan penilaian yang keliru.
- Metode AHP ini hanya metode
matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada
batas
kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar