Rabu, 24 Juni 2015

Pengertian Metode AHP

          Analytical Hierarchy Process (AHP). Diikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada     tahun 1970-an. Metode ini merupakan salah satu model pengambilan keputusan multikriteria yang dapat membantu kerangka berpikir manusia dimana faktor logika, pengalaman pengetahuan, emosi dan rasa dioptimasikan ke dalam suatu  proses sistematis. Pada dasarnya, AHP merupakan metode yang digunakan untuk   memecahkan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam kelompok –      kelompoknya, dengan mengatur kelompok tersebut ke dalam suatu hierarki, kemudian memasukkan nilai numerik sebagai pengganti persepsi manusia dalam melakukan perbandingan relatif. Dengan suatu sintesa maka akan dapat ditentukan  elemen mana yang mempunyai prioritas tertinggi. 
            Menurut Badiru (1995), AHP merupakan suatu pendekatan praktis untuk memecahkan masalah keputusan kompleks yang meliputi perbandinagn alternatif.AHP juga memungkinkan pengambilankeputusan menyajikan hubungan hierarki antara faktor, atribut, karakteristik atau alternative dalam lingkungan pengambilan  keputusan. Dengan cirri – ciri khusus, hierarki yang dimilikinya, masalah kompleks yang tidak terstruktur dipecahkan dalam kelompok -kelompoknya. 
            Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus               dipahamidiantaranya adalah : decomposition,comparative judgment, synthesis of priority, dan logicalconsistency.

B. Prinsip AHP
 
1.     *Decomposition (Penyusunan Hirarki).
     Setelah persoalan didefenisikan, maka perlu dilakukan decomposition yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur – unsurnya. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur – unsurnya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehinggadidapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini, maka proses analisis ini dinamakan hierarki (hierarchy). Ada 2 (dua) jenis hierarki, yaitu lengkap dan tak lengkap. Dalam hierarki lengkap, semua elemen pada suatu     tingkat memiliki semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya. Jika tidakdemikian dinamakan hierarki tak lengkap.
    *Comparative Judgement (Penilaian Perban- dingan Berpasangan.
     Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relative 2 (dua) elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya.Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas elemen – elemen. Hasil dari penilaian ini akan tampak lebih enak bila  disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks pairwise comparison. Pertanyaan yang biasa diajukan dalam penyusunan skala kepentingan adalah :
a. Elemen mana yang lebih (penting/disuka/…) 
b. Berapa kali lebih (penting/disuka …) ?
            Agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika membandingkan 2 (dua) elemen seseorang yang akan memberikan jawaban perlu pengertian menyeluruh tentang elemen – elemen yang dibandingkan dan relevansinya terhadap kriteria atau tujua  yang dipelajari.
3.      Sintesa Prioritas
     Sintesa prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan  prioritas dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap  elemen dalam level yang dipengaruhi kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau  dikenal dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas lokal dari elemen di level terendah sesuai dengan kriterianya. 
CLangkah dan Prosedur AHP




          Buchara (2000) mejelaskan bahwa secara umum, langkah – langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan AHP untuk memecahkan suatu masalah adalah sebagai berikut : 
1. Mendefenisikan permasalahan dan menentukan tujuan. Bila AHP digunakan untuk memilih alternatif atau
    menyusun prioritas alternatif, maka tahap ini dilakukan pengembangan alternatif.
2. Menyusun masalah ke dalam suatu struktur hierarki sehingga permasalahan yang kompleks dapat ditinjau
    dari sisi yang detail dan terukur. 
3. Menyusun prioritas untuk tiap elemen masalah pada setiap hierarki. Prioritas ini dihasilkan dari suatu
    matriks perbandingan berpasangan antara seluruh elemen pada tingkat hierarki yang sama. 
4. Melakukan pengujian konsistensi terhadap perbandingan antar elemen yang     didapatkan pada tiap
    tingkat hierarki.
  Sedangkan langkah-langkah pair-wise comparison AHP  :
1.   Pengambilan data dari obyek yang diteliti. 
2.   Menghitung data dari bobot perbandingan berpasangan responden dengan metode 
     “pairwise  comparison” AHP berdasar hasil kuisioner. 
3.   Menghitung rata-rata rasio konsistensi dari masing-masing responden.
4.   Pengolahan dengan metode “pairwise comparison” AHP. 
5.    Setelah dilakukan pengolahan tersebut, maka dapat disimpulkan adanya konsitensi dengan tidak, 
     bila data tidak konsisten maka diulangi lagi dengan pengambilan data seperti semula, namun 
     bila sebaliknya maka digolongkan data terbobot yang selanjutnya dapat dicari nilai beta (b) 

D. Kelebihan dan Kekurangan dalam Metode AHP

1. Kelebihan
   -Struktur yang berhierarki sebagai konskwensi dari kriteria yang dipilih sampai  pada   sub-sub 
     kriteria yang paling dalam.
   - Memperhitungkan validitas sampai batas toleransi inkonsentrasi sebagai kriteria dan alternatif yang 
     dipilih oleh para pengambil keputusan. 
   -Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan. 
2. Kelemahan
   - Ketergantungan model AHP pada input utamanya.
     Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan   subyektifitas sang
     ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli  tersebut memberikan penilaian yang keliru.
   - Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik   sehingga tidak ada
      batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.

Tidak ada komentar: